KULTUR JARINGAN TANAMAN

Agustus 23, 2009 at 11:30 pm Tinggalkan komentar

Tehnik budidaya secara generatif dapat dilakukan dengan cara kultur jaringan tanaman.  Kultur jaringan tanaman adalah tehnik budidaya atau perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik atau bebas mikroorganisme.

Keunggulan perbanyakan tanaman dengan metode kultur jaringan di banding cara konvensional diantaranya yaitu tanaman baru yang didapatkan berjumlah banyak, waktu yang relatif singkat, tidak membutuhkan tempat yang luas, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat l, serta mempunyai sifat fisiologi dan morfologi sama persis dengan tanaman induknya.

Adapun keberhasilan kultur jaringan tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:

a.  Eksplan (Bahan Tanam)

Eksplan merupakan faktor penting penentu keberhasilan dalam perbanyakan tanaman dengan metode kultur jaringan.  Umur fisiologis, umur ontogenetik, ukuran eksplan, serta bagian tanaman yang diambil.  Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagai eksplan adalah biji atau bagian-bagian biji seperti aksis embrio atau kotiledon, tunas pucuk, potongan batang satu buku (nodal explan), potongan akar, potongan daun, potongan umbi batang, umbi lapis dengan sebagian batang, dan bagian bunga.

b.  Media Kultur In Vitro

Media kultur jaringan yang memenuhi syarat adalah yang mengandung unsur hara makro dan mikro dalam kadar dan perbandingan tertentu, sumber energi seperti sukrosa, vitamin, dan zat pengatur tumbuh.  Kadang-kadang diperlukan pula penambahan bahan-bahan organik seperti air kelapa, ragi atau ekstrak malat.  Keseimbangan yang tepat dari komponen-komponen tersebut akan tampak pada tipe pertumbuhan yang terjadi.

c. Sterilisasi

Sterilisasi merupakan salah satu hal terpenting dalam kegiatan kultur, dimana dengan kegiatan sterilisasi ini diharapkan dapat meminimalisir terjadinya kontaminasi.  Beberapa hal yang perlu disterilisasi diantaranya adalah eksplan, alat-alat kultur serta tempat penanaman.

d.  Lingkungan Kultur

Kondisi lingkungan yang menentukan keberhasilan pembiakan tanaman dengan kultur in vitro meliputi cahaya, suhu dan komponen atmosfer.  Cahaya dibutuhkan untuk mengatur proses morfogenesis tertentu.  Dalam teknik kultur in vitro, cahaya dinyatakan  dengan dimensi penyinaran, intensitas, dan kualitasnya.  Prof. Murashinge menyarankan untuk mengasumsikan kebutuhan lama penyinaran pada kultur in vitro tanaman merupakan pencerminan dari kebutuhan periodisitas tanaman yang bersangkutan dilapangan.  Secara umum intensitas cahaya yang optimum untuk tanaman pada kultur tahap inisiasi adalah 0-1.000 lux, tahap multiplikasi sebesar 1.000-10.000 lux, tahap pengakaran sebesar 10.000-30.000 lux, dan pada tahap aklimatisasi sebesar 30.000 lux.  Kultur yang kurang cahaya biasanya merupakan gejala etiolasi dan vitrifikasi.  Etiolasi ditunjukkan dengan panjangnya ruas (internode) pada tunas yang terbentuk, sedangkan vitrifikasi ditandai dengan sukulensi, batang tampak bening atau terlalu lemas, karena banyak mengandung air (hiperhydricity).

Suhu juga berpengaruh terhadap kesehatan tanaman yang dikulturkan.   Suhu umumnya digunakan untuk pengulturan berbagai jenis tanaman adalah 20ºC-30ºC untuk kebanyakan tanaman, suhu yang terlalu rendah (kurang dari) 20ºC dapat menghambat pertumbuhan, dan suhu yang terlalu tinggi (lebih dari) 32ºC menyebabkan tanaman merana.

e.  Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)

Keberadaan hormon dan zat pengatur tumbuh dalam kegiatan kultur in vitro adalah mutlak.  Karena kegiatan kultur jaringan umumnya menggunakan bahan tanam yang tidak lazim (sel, jaringan, atau organ), dan budidayanya adalah budidaya terkendali.  Dalam kegiatannya, proses tumbuh dan berkembangnya eksplan dapat disesuaikan dengan harapan, misalnya menjadi kalus saja, organogenesis, ataupun embriogenesis.  Pengaturan ini diyakini dapat dilakukan dengan mengatur macam, dan konsentrasi hormon atau zat pengatur tumbuh tertentu, sehingga menghasilkan kombinasi yang tepat sesuai dengan harapan.

Entry filed under: Kultur Jaringan. Tags: .

PENGAPURAN PADA TANAH ASAM I. SEJARAH, KLASIFIKASI dan MORFOLOGI NANAS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Top Rated

Feeds

Klik tertinggi

  • Tak ada

Blog Stats

  • 73,105 hits

%d blogger menyukai ini: